Balonku Ada Lima versi Bapak dan Najmina

Bapak : “Baaloonkuu ada..”          Najmina : “ima”

Bapak : “Ruupaa-ruupaa..”           Najmina : “anana”

Bapak : “Hiijau kuuning..”             Najmina : “eabu”

Bapak : “Meerah muuda dan..”   Najmina : “iyu”

Bapak : “Meeleetus baalon..”       Najmina : “ijau dool…”

Bapak : “Haatiku saangat..”          Najmina : “acau”

Bapak : “Baalonku tinggal.. “        Najmina : “empat”

Bapak : “Kuupegang..”                    Najmina : “uwat-uwat”

Najmina : “Apaak.. puk angan… “(Bapak, tepuk tangan)

song lovers

Posted in My Sweet Little Baby | Leave a comment

Mengorbankan Akhirat Demi Rupiah ??

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Dari Fadil Fuad Basymeleh
Alhamdulillah tadi (hari Sabtu 29 Mei 2010), saya bisa hadir menjadi pembicara di ”Seminar Syariah Ekonomi Islam” di Restoran SAMI KURING Cikarang yang diselenggarakan oleh Forum Komunitas Muslim Karyawan EJIP, dari rencana semula peserta dibatasi maksimum 70 peserta, kenyataannya membludak hingga 98 orang peserta (diluar panitia), itupun katanya banyak yang ditolak saat mendaftar karena keterbatasan ruangan.
Seperti biasa saya sharing tentang konsep bisnis berorientasi akhirat, dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha, yaitu bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek, seperti punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dst… ini cita2 yang terlalu pendek, kita naikkan cita-cita kita ke akhirat. Jika selama ini diajarkan sejak kecil, gantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat, kenapa tidak ?
Toh dengan bercita-cita akhirat maka Allah Ta’ala akan membantu memudahkan urusan kita, akhirat dapat dan dunia pasti dapat, sedangkan kalau cita2 hanya dunia maka khawatirnya hanya dapat dunia saja dan di akhirat kita menjadi orang yang rugi besar.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syuuraa 42 : 20)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (
Al A’laa 87 : 16-17)
Banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat ? jawabannya banyak sekali.
Bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni 1 juta anak yatim, dst…
Ada kisah menarik di zaman tabiut tabiin, seorang ulama besar bernama Abdullah bin Al Mubarak, seorang ulama ahli hadits sekaligus seorang pedagang yang berhasil, beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, “Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar2″, Abdullah bin Al Mubarak menjawab bahwa dia semangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama2 ahli hadits agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja, karena kalau mereka sibuk bekerja maka mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits.” (Kisah itu disebutkan oleh Imam Az Zahabi dalam kitab SIyar A’alam AN Nubala’ pada biografi Abdullah bin Al Mubarak.)
Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Ta’ala membuktikan janjinya, beliau Rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya tapi tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya, dunia hanya sarana bukan tujuan, beliau mengerti hakekat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.
Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Wajib atas setiap orang muslim untuk bersedekah.” Dikatakan kepada beliau: “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab: “Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah.. .“(Muttafaqun ‘alaih)
Lihat betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah, karena sedekah itu wajib, maka para sahabat setelah mendengar hadits ini mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekedar menjadi kuli mengangkat barang di punggungnya hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.
Banyak dalil2 yang menerangkan janji2 Allah Ta’ala kepada mereka yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.
Rosulullah Shallallahu` alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, `Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)” HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menjadikan kegelisahannya, kegundahannya cita-citanya tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semuanya dari semua keinginannya, Barangsiapa yang keinginannya, cita-citanya bercerai berai kepada keadaan – keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan perduli dilembah mana dia binasa”. HR. Ibnu Majah (sanad hasan)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara :

- pertama, Allah menjadikan kecukupan dihatinya
- yang kedua, Allah mengumpulkan urusannya
- yang ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina

dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara :

- yang pertama-tama, Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata
- yang kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya
- yang ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja”

HR. At Tirmidzi dan lain-lain (Hadits Shahih)

Nah masikah kita ragu dengan janji-janji Allah Ta’ala diatas ? apakah itu cuma dongen di siang bolong? siapakah yang paling mampu menepati janjinya ? sungguh sayang banyak dari kita yang masih ragu dengan janji2 Allah Ta’ala, kita ikut yakin dengan pameo ini, “zaman ini zaman edan, kalau tidak ikut arus bagaimana kita bisa dapat rezeki ?”, atau “yang haram saja susah, apalagi yang halal”, jadilah suap menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa dosa, berdusta saat jual beli menjadi hal yang wajar, dst…
Bagaimana mungkin karunia Allah Ta’ala berupa rezeki dapat diraih dengan maksiat ? mungkin rezeki  itu akan didapat tapi rezeki itu tidak akan barokah, justru rezeki tersebut akan membawa petaka, istri dibawa lari orang, anak berzina, kita sendiri strok dan merana seorang diri di rumah sakit jiwa, akhir yang buruk yang tidak satupun dari kita menginginkannya.
Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,
“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram”
(HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya.”
(HR. Abu Zar dan Al Hakim)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang tidak akan sekali-kali meninggal dunia sebelum rizkinya disempurnakan, sekalipun rizkinya terlambat (datang) kepadanya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rizki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.”
(Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no:2144)

Perhatikan hadits2 diatas, kita disuruh berusaha sungguh2, bekerja, memperbaiki mata pencaharian, meninggalkan yang haram dan kita disuruh bertakwa, rezeki yang ada di langit (dariNya) bukan dicari dengan cara maksiat kepadaNya, tapi kita disuruh untuk bersungguh-sungguh bekerja, memperbaiki cara mencari rezeki dan bertakwa.

Ada satu pengalaman pribadi yang menarik sebagai pembuktian hadits2 diatas, yaitu tidak akan mati seseorang hingga seluruh rezekinya diterima. Kejadiannya terjadi pada ayah saya, yaitu setelah operasi jantung beliau mengalami komplikasi, sempat dirawat diruang ICU selama 30 hari. Beliau sempat koma selama 2 minggu, setelah itu sadar dan meminta “es krim”, dokter mengizinkan saya memberikan es krim tersebut, setelah habis dimakannya beliau koma lagi selama dua hari dan akhirnya meninggal dunia.
Kalau diilustrasikan secara sederhana dari kejadian ini, seolah-olah para malaikat menginventaris kembali rezeki yang harus diterima ayah saya, ternyata ada satu yang tertinggal, yaitu es krim, maka ayah saya dibangunkan, diberi eskrim kemudian nyawanya dicabut setelah seluruh rezekinya diterima. Benar sekali tidak akan mati seorang hama sebelum rezekinya diterima dengan sempurna.
Kejadian ini membuat saya tambah yakin dengan firman Allah Ta’ala dan sabda NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas.
Masih ada lagi yang bertanya, untuk apa kita usaha kalau rezeki sudah ditentukan ? jangankan kita, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya hal yang sama.
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim). Inilah nasehat Nabi kepada kita untuk tidak bertopang dagu dan supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Kita pasti akan dimudahkan menuju takdir kita, selama kita mengikuti firman Allah Ta’ala dalam surat Al Lail ayat 5-7 tersebut.
Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala berikut ini (yang artinya), “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Qs. An-Nahl : 97
Lihat bahwa jika kita ingin hidup bahagia mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan artinya semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dst), maka caranya adalah beramal saleh dalam keadaan beriman. Bagaimana kita bisa beriman dan beramal shaleh? mari kita pelajari Al-Quran dan ikuti petunjuk Rasulullah shallalla hu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar, insyaAllah kita akan selamat.
Wallahu a’alam
Wassalamualaikum  Warohmatullahi  Wabarokatuh
Korbankan Akhirat untuk rupiah ??
Posted in Dakwah | Leave a comment

SUDAHKAH DIKELUARKAN ZAKATNYA?

Setiap akhir tahun seperti ini biasanya banyak karyawan perusahaan menerima hadiah atau bonus uang dari hasil keuntungan perusahaan. Dalam surah Al Baqarah : 43 Alloh berfirman yang artinya “Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”

Dan dalam surah Al Baqarah : 267 : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Jelas sudah perintah zakat yang diberikan pada kaum muslim. Dalam hal ini, hadiah atau bonus yang diterima diqiyaskan seperti zakat pertanian yang dikeluarkan setiap kali mendapatkannya dengan nisab sebesar 5 wasaq (520 kg beras) dengan kadar zakatnya 2.5 % jika pekerjaan si penerima bonus berhubungan dengan keuntungan perusahaan tempat ia bekerja, dan kadar zakat 10% jika pekerjaan si penerima bonus tidak berhubungan dengan keuntungan perusahaan tempat ia bekerja. Jika rata-rata harga beras Rp. 7000,-/kg maka bonus dengan nominal minimal Rp. 3.640.000,- wajib dikeluarkan zakat sesuai kadarnya.

Banyak manfaat yang diperoleh dari zakat. Zakat membersihkan harta dan jiwa. Zakat menumbuhkan harta. Dengan harta yang kita sisihkan melalui zakat akan terjadi perputaran harta di kalangan fakir miskin yang menyebabkan pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran, dan terwujudnya hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta keamanan, kedamaian, dan ketentraman dalam kehidupan. Waallahu a’lam.

Saudaraku, sudahkah dikeluarkan zakatnya?

Dauroh Zakat, Al Muhajirin Ramadhan 1430 H.

gold

Posted in Dakwah | 75 Comments

MAKAN DARI RIZKI YANG HALAL

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anh, ia berkata: “Telah bersabda Rasululloh: “ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, akanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.’ Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan” , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”. [Muslim no. 1015]


Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.

Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?

Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar aturan agama.

Kalimat “makanannya haram…, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia. Wallaahu a’lam.

Posted in Dakwah | 2 Comments

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata,”Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman” Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya” Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu” Continue reading

Posted in Dakwah | 4 Comments

KEAJAIBAN DAN KEBENARAN AL QUR’AN

al-quran

Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain


Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan
Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat
Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini
tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan
adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian
bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh
masing-masing.” (Al Qur’an, Ar Rahman: 19-20)”

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu  sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang  memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.

Disadur dari HarunYahya oleh Rika Hermawan

Kegelapan dan Gelombang di Dasar Lautan

Pengukuran yang dilakukan dengan teknologi masa kini berhasil mengungkapkan bahwa antara 3 hingga 30% sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut. Jadi, hampir semua tujuh warna yang menyusun spektrum sinar  matahari diserap satu demi satu ketika menembus permukaan lautan hingga kedalaman 200 meter, kecuali sinar biru . Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak dijumpai sinar apa pun. Fakta ilmiah ini telah disebutkan dalam ayat ke-40 surat An Nuur sekitar 1400 tahun yang lalu..


“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (Al Qur’an, An Nuur:40)

Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)


Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini. Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan “gelap gulita di lautan yang dalam” digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…” mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang “terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda.” Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti
gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombangpermukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)

Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur’an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Alloh mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur’an adalah kalam Alloh.

Pergerakan Gunung

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu;sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, An Naml:88)”


Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untukpertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnyabergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil. Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi. Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisanlapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terusmenerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Alloh telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari  benua” untuk gerakan ini). (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)


Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

Bagaimana mungkin seorang Muhammad yang buta huruf dan tidak pernah mendapatkan pendidikan apapun bisa mengungkapkan hal-hal ilmiah seperti ini kecuali dia benar-benar adalah seorang Rasul yang diutus Alloh SWT.

Posted in Dakwah | 38 Comments

MAKANAN PERTAMA NAJMINA

Bulan ini Najmina sudah berumur 5,5 bulan, bawaannya setiap hari selalu ingin memasukkan semua benda yang dia pegang kedalam mulutnya. Terakhir imunisasi ke Hermina dokternya bilang sudah boleh diberikan buah. Buah pertama yang diberikan adalah pisang, pengennya pisang yang manis, tapi susah banget nyari pisang manis seperti yang dijual di sepanjang jalan menuju Puncak. Akhirnya cuma dapat pisang biasa yang kurang manis, dan seperti yang diduga Najmina gak suka karena agak kecut, padahal sudah dibilang “Najmina, kalau kurang manis lihat aja foto kita bertiga biar kerasa manis hehehhee…..

Makanan kedua Najmina adalah bubur dari biscuit bayi, karena sangat lahap saat diberi biscuit bayi kemudian Najmina diberi beras merah organik saus pepaya buatan Ibunda tercinta, bubur yang satu ini enak banget, dalam waktu 15 menit langsung habis semua. Berikutnya akan dibuat variasi sausnya, dari sayauran hingga daging dan ikan…

……”Makacih Bapak, makacih Ibu… Najmina bahagia jadi anaknya Bapak dan Ibu”……

Najmina in pink

Najmina in pink

Posted in My Sweet Little Baby | 1 Comment

Pasang Surut Iman Kita

Alhamdulillahirobil’alamin, segala puji kita panjatkan kepada Alloh Tuhan Semesta Alam atas karunianya berupa nikmat Iman dan Islam. Ibarat air laut, terkadang iman kita pun mengalami pasang dan surut. Agar iman kita tetap terjaga dan disaat surut tidak terus – menerus berangsur-angsur berkurang hingga menghilang, maka kita diwajibkan untuk melakukan “tholabul ilmi” atau menuntut ilmu. Setiap muslim diwajibkan menuntut ilmu baik itu ilmu yang mempelajari agama maupun ilmu duniawi, pada dasarnya setiap ilmu berujung pada Keagungan Alloh SWT. Jika ingin meraih dunia maka raihlah dengan ilmu dan jika ingin meraih akhirat maka raihlah dengan ilmu. Disini dapat dilihat betapa besar manfaat ilmu. Semakin banyak ilmu yang kita pelajari maka akan semakin banyak kita mengetahui Kebesaran Alloh SWT. Semakin kita mengetahui Kebesaran Alloh maka akan semakin besar rasa takut dan rasa ketergantungan yang muncul di hati kita pada Dzat yang Maha Perkasa.

Namun diantara banyak ilmu yang dapat dipelajari ada satu ilmu yang paling utama dan paling mulia untuk dipelajari, yaitu ilmu yang tidak akan pernah membuat kita tersesat jika mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, ilmu yang mendatangkan pahala setiap kali kita mempelajarinya, ilmu yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, ilmu yang menceritakan tentang Alloh beserta malaikat-malaikatNya dan kitab-kitabNya, hukum-hukumNya, serta rasul-rasulNya yaitu ilmu dalam Al Quran. Rasululloh SAW bersabda: “Orang yang  paling baik diantara kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari)“. Keutamaan lain dalam membaca Al Quran yang disebutkan dalam salah satu hadist lainnya adalah “Barang siapa membaca Al Quran setiap hurufnya dinilai satu kebaikan dan setiap kebaikan dinilai sepuluh pahala“. Jadi jika kita merasa banyak dosa dan ingin banyak berbuat kabaikan maka sangatlah mudah caranya, yaitu perbanyaklah membaca Al Quran.

Al Quran sekarang ini dapat kita pelajari dengan berbagai cara, mulai dari buku-buku, radio, internet dan televisi. Namun ada cara yang paling utama dan sangat dicintai Alloh dalam mempelajari Al Quran, yaitu dengan berkumpul bersama di dalam masjid melalui pengajian sebagaimana disabdakan oleh Rasululloh SAW : “Setiap kaum yang berkumpul di salah satu rumah Alloh (masjid) membaca kitab Alloh (Al Quran) dan mempelajarinya, pasti akan turun kepada mereka ketenangan, dan dikelilingi oleh malaikat yang menyebut-nyebut mereka di sisi Alloh (HR. Muslim)“.

Oleh karena itu saudaraku se-iman, marilah kita perbanyak menghadiri majelis-majelis pengajian di Masjid di sekeliling kita agar tetap terjaga Iman kita dan selalu muncul ketenangan dalam hati kita. Amin ya Robbal’alamin. Wallohu a’lam..

Al Quran

Al Quran

Posted in Dakwah | 1 Comment

Najmin sudah 4 bulan

Gak terasa, anakku sudah berumur 4 bulan. Banyak hal sudah bisa ia lakukan. Minggu kemarin, gak sengaja kami kenalkan bacakan cerita dari buku cergam. Tidak disangka Najmin sangat antusias dengan buku tersebut. Begitu dibaca Najmin langsung berceloteh seolah-olah ingin menirukan apa yang dibacakan. Buku cerita pun direbut dan gak boleh diambil kembali. Setiap diambil dia marah dan berteriak. :) bahagia melihat tingkah anakku yang menggemaskan.

Kemarin lusa, dia bisa tengkurap dan menegakkan kepalanya dengan tegak, tapi belum bisa kembali sendiri, dan jika sudah cape’ wajahnya terbenam ke kasur. Alhamdulillah, semua masih tetap indah…

najmina seneng banget ma buku

Posted in My Sweet Little Baby | Leave a comment

Rahasia dan Hikmah di Balik Sakit

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

***

Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Posted in Dakwah | 1 Comment